Manasik Haji Khusus: Panduan Tata Cara, Urutan Ibadah, dan Doa Lengkap

Ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang membutuhkan persiapan matang, baik secara fisik, mental, maupun pemahaman agama. Salah satu bentuk persiapan yang penting bagi calon jemaah adalah mengikuti manasik haji. Melalui bimbingan ini, jemaah dapat mempelajari urutan pelaksanaan ibadah, memahami ketentuan ihram, serta mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan selama berada di Tanah Suci.
Bagi calon jemaah yang memilih program haji khusus, manasik menjadi kesempatan untuk memahami rangkaian ibadah sekaligus mengenali alur perjalanan dan layanan yang akan diterima. Meskipun penyelenggaraan dan fasilitas perjalanannya dapat berbeda dari haji reguler, ketentuan pokok ibadah haji tetap mengikuti syariat Islam.
Lantas, apa yang dipelajari dalam manasik haji khusus? Bagaimana urutan pelaksanaan ibadahnya, doa apa saja yang dapat dibaca, dan apa perbedaannya dengan manasik haji reguler? Berikut panduan lengkapnya.
Apa Itu Manasik Haji Khusus?
Manasik haji adalah kegiatan pembelajaran dan praktik mengenai tata cara pelaksanaan ibadah haji sesuai tuntunan syariat Islam. Materinya mencakup persiapan sebelum keberangkatan, niat ihram, tawaf, sai, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, tahallul, serta ketentuan ibadah lainnya.
Sementara itu, haji khusus merupakan penyelenggaraan ibadah haji melalui Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) yang memenuhi ketentuan pemerintah. Dalam program ini, jemaah memperoleh layanan perjalanan dan pendampingan sesuai ketentuan penyelenggaraan serta paket yang disepakati.
Dengan demikian, manasik haji khusus merupakan bimbingan ibadah bagi calon jemaah haji khusus agar memahami tata cara haji, mempersiapkan diri menghadapi kondisi di Tanah Suci, dan dapat menjalankan ibadah dengan lebih mandiri.
Mengapa Manasik Haji Khusus Penting?
Manasik bukan sekadar kegiatan sebelum keberangkatan. Pembekalan ini membantu jemaah memahami apa yang harus dilakukan, kapan suatu ibadah dilaksanakan, dan bagaimana menyikapi kondisi yang mungkin terjadi selama rangkaian haji.
Ada beberapa alasan mengapa calon jemaah perlu mengikuti manasik dengan sungguh-sungguh.
1. Memahami urutan ibadah haji
Jemaah mempelajari tahapan ibadah sejak ihram hingga penyelesaian rangkaian haji, termasuk perbedaan rukun, wajib, dan sunah haji.
2. Mengetahui larangan ihram
Pemahaman tentang larangan ihram membantu jemaah menghindari tindakan yang dapat menimbulkan konsekuensi fikih selama menjalankan ibadah.
3. Mempersiapkan diri menghadapi kepadatan jemaah
Kegiatan tawaf, sai, dan rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, serta Mina membutuhkan kesiapan fisik, kedisiplinan, dan kemampuan mengikuti arahan petugas.
4. Memahami alur perjalanan
Jemaah perlu mengetahui jadwal, titik berkumpul, transportasi, lokasi akomodasi, serta prosedur komunikasi dengan pembimbing dan petugas.
5. Meningkatkan kemandirian dalam beribadah
Jemaah yang memahami manasik akan lebih siap menjalankan ibadah dan mengetahui kapan harus meminta bantuan pembimbing, terutama ketika menghadapi kondisi khusus.
Tata Cara Manasik Haji Khusus dari Awal hingga Akhir

Pelaksanaan haji memiliki beberapa tahapan yang saling berkaitan. Urutan teknisnya dapat berbeda sesuai jenis haji yang dipilih, kondisi perjalanan, serta kebijakan penyelenggaraan. Oleh karena itu, jemaah perlu memastikan jenis haji dan jadwal ibadah yang digunakan dalam programnya.
1. Persiapan Sebelum Berangkat
Persiapan dimulai sebelum keberangkatan ke Arab Saudi. Calon jemaah sebaiknya mengikuti bimbingan manasik, mempelajari buku panduan resmi, menjaga kebugaran, dan memahami jadwal perjalanan.
Persiapan yang perlu diperhatikan meliputi:
- Mempelajari rukun, wajib, sunah, serta larangan dalam ibadah haji.
- Memastikan dokumen perjalanan dan persyaratan keberangkatan lengkap.
- Menjaga kondisi fisik melalui pola makan, istirahat, dan aktivitas yang sesuai kemampuan.
- Memahami obat pribadi dan kebutuhan kesehatan bersama tenaga kesehatan.
- Mencatat kontak pembimbing, ketua rombongan, dan petugas yang dapat dihubungi.
- Mempersiapkan perlengkapan ibadah sesuai ketentuan ihram.
Pada tahap ini, calon jemaah juga sebaiknya mempelajari doa-doa dasar yang akan digunakan selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah.
2. Memahami Jenis Haji dan Niat Ihram
Sebelum memasuki rangkaian ibadah, jemaah harus memahami jenis haji yang dijalankan. Secara umum, terdapat tiga jenis haji, yaitu ifrad, qiran, dan tamattu’.
- Haji ifrad: mendahulukan ibadah haji tanpa menggabungkannya dengan umrah dalam satu rangkaian qiran.
- Haji qiran: menggabungkan niat haji dan umrah dalam satu ihram.
- Haji tamattu’: melaksanakan umrah terlebih dahulu, kemudian tahallul, lalu berihram kembali untuk haji pada waktunya.
Jenis haji memengaruhi urutan pelaksanaan beberapa ibadah dan ketentuan dam. Karena itu, jemaah harus mengikuti arahan pembimbing mengenai jenis haji yang telah ditetapkan.
Ihram dimulai dengan niat memasuki ibadah haji atau umrah dari miqat yang berlaku sesuai perjalanan. Sebelum berniat, jemaah dianjurkan mempersiapkan kebersihan diri dan mengenakan pakaian ihram sesuai ketentuan.
Bagi laki-laki, pakaian ihram terdiri dari dua helai kain yang tidak dijahit mengikuti bentuk tubuh. Bagi perempuan, pakaian ihram berupa pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan syariat.
Setelah berniat ihram, jemaah wajib memperhatikan larangan ihram, antara lain menggunakan wewangian setelah niat ihram, memotong rambut atau kuku tanpa alasan yang dibenarkan, berburu hewan darat liar, serta larangan khusus terkait pakaian laki-laki dan penutup wajah atau sarung tangan perempuan menurut rincian fikihnya. Ketentuan dan pengecualian tertentu perlu dipelajari bersama pembimbing.
3. Membaca Talbiyah
Setelah berihram, jemaah disunahkan memperbanyak bacaan talbiyah selama perjalanan hingga waktu penghentiannya sesuai ketentuan ibadah.
Bacaan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
Latin:
Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak.
Artinya:
“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Talbiyah merupakan ungkapan pemenuhan panggilan Allah untuk beribadah. Jemaah dianjurkan memahami maknanya agar bacaan tidak hanya menjadi rutinitas lisan, tetapi juga pengingat akan tujuan perjalanan haji.
4. Melaksanakan Tawaf

Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dengan ketentuan yang berlaku. Dalam pelaksanaannya, jemaah perlu memperhatikan arah putaran, titik awal dan akhir, serta kondisi kesucian dan ketentuan fikih lainnya.
Secara umum, hal-hal yang perlu diperhatikan ketika tawaf adalah:
- Memastikan tawaf yang dilakukan sesuai jenis dan tahap ibadah.
- Memulai putaran dari arah Hajar Aswad sesuai penanda yang tersedia.
- Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dengan Ka’bah berada di sebelah kiri.
- Menjaga ketertiban, menghindari dorongan, dan tidak memaksakan diri mendekati Hajar Aswad.
- Memperbanyak zikir dan doa yang baik selama tawaf.
Tidak ada satu doa khusus yang wajib dibaca pada setiap putaran tawaf. Jemaah dapat berzikir, membaca Al-Qur’an, atau memohon kepada Allah dengan doa yang baik. Untuk rincian persyaratan sah tawaf, jemaah perlu mengikuti bimbingan fikih yang tepercaya.
5. Melaksanakan Sai antara Safa dan Marwah
Sai adalah berjalan atau berlari kecil pada bagian yang disyariatkan di antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh perjalanan. Sai dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah.
Pada pelaksanaannya, jemaah dianjurkan:
- Memulai dari Safa dan mengikuti jalur yang telah disediakan.
- Menghitung perjalanan dengan benar; perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung satu, sedangkan Marwah ke Safa dihitung satu perjalanan berikutnya.
- Berzikir dan berdoa selama sai.
- Menyesuaikan kecepatan dengan kondisi fisik dan mengutamakan keselamatan.
- Mengikuti arahan petugas apabila jalur sedang padat.
Sai merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah haji atau umrah sesuai ketentuan pelaksanaannya. Jemaah yang memiliki keterbatasan fisik sebaiknya berkonsultasi dengan pembimbing mengenai fasilitas bantuan yang tersedia.
6. Wukuf di Arafah
Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang sangat penting. Pelaksanaannya dilakukan pada waktu yang telah ditentukan pada 9 Zulhijah, dengan memperhatikan batas waktu dan ketentuan wukuf menurut fikih.
Selama berada di Arafah, jemaah dapat memperbanyak doa, zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, dan memohon ampunan kepada Allah. Jemaah juga perlu menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengikuti instruksi petugas.
Wukuf bukan sekadar berada di lokasi Arafah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperdalam penghambaan, introspeksi, dan pertobatan.
7. Mabit di Muzdalifah
Setelah rangkaian wukuf, jemaah bergerak menuju Muzdalifah sesuai pengaturan perjalanan. Mabit di Muzdalifah merupakan bagian dari wajib haji dengan rincian pelaksanaan yang perlu dipahami berdasarkan tuntunan fikih.
Di lokasi ini, jemaah mengikuti arahan petugas mengenai tempat turun, waktu keberangkatan, istirahat, dan ketentuan terkait pengumpulan kerikil untuk melontar jumrah jika diperlukan.
Jemaah sebaiknya tidak memisahkan diri dari rombongan tanpa koordinasi. Kondisi kepadatan, cuaca, dan pengaturan transportasi perlu menjadi perhatian bersama.
8. Melontar Jumrah di Mina

Melontar jumrah merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji yang dilakukan pada hari-hari tertentu di Mina. Pelaksanaannya meliputi Jumrah Aqabah pada 10 Zulhijah serta jumrah-jumrah pada hari tasyrik sesuai ketentuan dan jadwal yang berlaku.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Memastikan jadwal melontar sesuai arahan pembimbing dan pengaturan resmi.
- Memahami jumlah lontaran untuk setiap jumrah sesuai ketentuan fikih.
- Mengutamakan keselamatan dan tidak berdesakan.
- Tidak melempar benda selain yang ditentukan.
- Memastikan apakah pelaksanaan nafar awal atau nafar tsani berlaku sesuai rencana dan ketentuan yang dipenuhi.
Karena kondisi di Mina dapat berubah, jemaah sebaiknya mengikuti jadwal dan arahan resmi, bukan hanya mengandalkan perkiraan pribadi.
9. Tahallul
Tahallul adalah keadaan ketika seseorang keluar dari sebagian atau seluruh larangan ihram sesuai tahapan ibadah yang telah dipenuhi. Dalam pelaksanaan haji, tahallul berkaitan dengan penyelesaian amalan tertentu, termasuk mencukur atau memotong rambut sesuai ketentuan.
Jemaah tidak sebaiknya menentukan sendiri kapan seluruh larangan ihram telah berakhir. Status tahallul perlu dipahami berdasarkan jenis haji, amalan yang telah dilaksanakan, serta tuntunan pembimbing.
10. Tawaf Ifadah dan Penyelesaian Rangkaian Haji
Tawaf ifadah merupakan salah satu rukun haji. Jemaah melaksanakannya sesuai waktu dan ketentuan yang berlaku, kemudian menyelesaikan sai apabila memang menjadi kewajiban dalam rangkaian hajinya.
Jemaah juga perlu memastikan penyelesaian kewajiban lain, termasuk mabit dan melontar jumrah sesuai ketentuan. Tawaf wada’ dilaksanakan ketika hendak meninggalkan Makkah bagi jemaah yang terkena kewajibannya, dengan memperhatikan pengecualian yang diatur dalam fikih.
Rangkaian teknis dapat berbeda sesuai jenis haji dan kondisi jemaah. Karena itu, urutan di atas merupakan gambaran umum, bukan pengganti bimbingan fikih untuk kasus khusus.
Kumpulan Doa yang Dapat Dibaca Saat Haji
Doa menjadi bagian penting dalam perjalanan haji. Jemaah dapat membaca doa yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, serta memohon kepada Allah dengan bahasa yang dipahami. Tidak semua lokasi atau putaran memiliki doa khusus yang wajib dibaca.
1. Doa Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat

Bacaan Arab:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin:
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Doa ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 201 dan dapat dibaca dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika beribadah di Tanah Suci.
2. Doa Memohon Kemudahan
Bacaan Arab:
رَبِّ يَسِّرْ وَلَا تُعَسِّرْ وَتَمِّمْ بِالْخَيْرِ
Latin:
Rabbi yassir wa laa tu’assir, wa tammim bil-khair.
Artinya:
“Ya Tuhanku, mudahkanlah dan jangan persulit, serta sempurnakanlah dengan kebaikan.”
Bacaan ini merupakan doa yang umum digunakan untuk memohon kemudahan. Untuk doa yang secara khusus dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw., sebaiknya rujukannya diperiksa terlebih dahulu.
3. Doa Memohon Ampunan
Bacaan Arab:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Latin:
Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Doa ini terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 23 dan dapat dibaca sebagai bentuk pertobatan serta permohonan ampunan.
4. Doa Ketika Berada di Safa dan Marwah
Salah satu bacaan yang menjadi bagian dari tuntunan sai adalah ayat:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
Latin:
Innash-shafaa wal-marwata min syaa’irillaah.
Artinya:
“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar Allah.”
Bacaan tersebut merupakan bagian dari Surah Al-Baqarah ayat 158. Pelaksanaan zikir dan doa di Safa serta Marwah mengikuti tuntunan yang dijelaskan dalam hadis dan buku manasik resmi.
5. Doa untuk Keluarga dan Keturunan
Bacaan Arab:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Latin:
Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Doa ini terdapat dalam Surah Al-Furqan ayat 74. Jemaah dapat membacanya ketika memohon kebaikan untuk keluarga dan keturunan.
Apakah Ada Doa Wajib untuk Setiap Putaran Tawaf?
Tidak ada satu bacaan doa tertentu yang wajib dibaca pada setiap putaran tawaf. Jemaah dapat memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan memanjatkan doa yang baik. Menghafal kumpulan doa dapat membantu, tetapi jangan sampai jemaah menganggap doa tertentu sebagai syarat sah tawaf tanpa dasar yang jelas.
Perbedaan Manasik Haji Khusus dan Manasik Haji Reguler

Perbedaan utama antara haji khusus dan haji reguler terletak pada jalur penyelenggaraan, pengaturan layanan, dan pendampingan perjalanan. Keduanya tetap menjalankan ibadah haji berdasarkan rukun dan ketentuan syariat yang sama.
Berikut gambaran perbedaannya.
| Aspek | Manasik Haji Khusus | Manasik Haji Reguler |
|---|---|---|
| Penyelenggara | PIHK yang memenuhi ketentuan pemerintah | Pemerintah melalui mekanisme penyelenggaraan haji reguler |
| Pengaturan layanan | Mengikuti program dan layanan yang disepakati dengan PIHK sesuai ketentuan | Mengikuti pengaturan layanan dan jadwal penyelenggaraan haji reguler |
| Pendampingan | Dapat diatur lebih khusus sesuai paket dan kebutuhan jemaah | Mengikuti sistem bimbingan, kelompok, dan petugas haji reguler |
| Jadwal dan perjalanan | Dapat berbeda sesuai program, penerbangan, dan layanan yang disediakan | Mengikuti jadwal serta pengaturan perjalanan haji reguler |
| Akomodasi dan transportasi | Mengikuti fasilitas yang tercantum dalam paket dan ketentuan yang berlaku | Mengikuti fasilitas yang ditetapkan dalam penyelenggaraan haji reguler |
| Materi manasik | Membahas fikih haji sekaligus teknis perjalanan sesuai program | Membahas fikih haji, kebijakan pemerintah, perjalanan, serta bimbingan jemaah |
| Tata cara ibadah | Mengikuti syariat dan ketentuan fikih | Mengikuti syariat dan ketentuan fikih |
Perlu dipahami bahwa tabel ini menggambarkan perbedaan secara umum. Intensitas bimbingan, ukuran kelompok, jarak akomodasi, dan bentuk pendampingan pada haji khusus dapat berbeda antara satu program dan program lainnya. Tidak tepat menganggap semua layanan haji khusus pasti lebih baik atau semua layanan haji reguler memiliki fasilitas yang sama.
Apakah Tata Cara Ibadah Haji Khusus Berbeda dari Haji Reguler?
Tidak. Perbedaan status penyelenggaraan tidak mengubah rukun haji seperti ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sai, dan tahallul sesuai ketentuan fikih.
Jemaah haji khusus dan reguler sama-sama perlu memahami wajib haji, larangan ihram, serta ketentuan pelaksanaan ibadah di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Yang dapat berbeda adalah alur perjalanan, jadwal keberangkatan menuju lokasi ibadah, akomodasi, transportasi, serta pengaturan bimbingan. Karena itu, calon jemaah perlu mempelajari materi manasik dan petunjuk teknis yang sesuai dengan programnya.
Tips Mengikuti Manasik Haji Khusus agar Lebih Siap
Agar bimbingan memberikan manfaat maksimal, calon jemaah sebaiknya tidak hanya menghafal bacaan, tetapi juga memahami alasan, urutan, dan ketentuan setiap amalan.
Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:
- Mencatat urutan ibadah. Buat ringkasan tahapan haji dan tandai rukun serta wajib haji agar mudah dipelajari kembali.
- Mempraktikkan gerakan. Ikuti simulasi ihram, tawaf, sai, dan rangkaian ibadah lain dengan bimbingan yang tepat.
- Memahami bacaan doa. Pelajari arti doa agar dapat beribadah dengan lebih khusyuk.
- Bertanya mengenai kondisi khusus. Sampaikan kepada pembimbing jika memiliki keterbatasan fisik, menggunakan obat rutin, atau memerlukan bantuan mobilitas.
- Memahami komunikasi rombongan. Simpan kontak petugas dan sepakati titik berkumpul jika terpisah dari rombongan.
- Memeriksa sumber informasi. Gunakan buku manasik resmi dan tanyakan perbedaan pendapat fikih kepada pembimbing yang kompeten.
Memilih Program Haji Khusus dengan Pertimbangan yang Tepat

Selain mempersiapkan ibadah, calon jemaah perlu memahami aspek penyelenggaraan program. Pastikan penyelenggara memiliki izin yang sesuai, rincian layanan tertulis, jadwal perjalanan yang jelas, dan mekanisme komunikasi yang dapat diandalkan.
Sebelum mengambil keputusan, periksa hal-hal berikut:
- Legalitas PIHK melalui kanal resmi pemerintah.
- Rincian akomodasi, transportasi, konsumsi, dan layanan pendampingan.
- Ketentuan biaya, pembayaran, serta dokumen yang diterima.
- Jadwal bimbingan manasik sebelum dan selama perjalanan.
- Identitas serta kompetensi pembimbing ibadah.
- Prosedur bantuan bagi jemaah lansia atau jemaah yang membutuhkan dukungan khusus.
Informasi tentang fasilitas dan layanan sebaiknya diperiksa langsung pada dokumen program yang berlaku. Jangan hanya mengandalkan klaim promosi atau informasi yang tidak disertai rincian tertulis.
Kesimpulan
Manasik haji khusus merupakan bekal penting bagi calon jemaah untuk memahami tata cara ibadah sekaligus mempersiapkan perjalanan ke Tanah Suci. Materinya meliputi persiapan sebelum keberangkatan, ihram, talbiyah, tawaf, sai, wukuf, mabit, melontar jumrah, tahallul, hingga penyelesaian rangkaian haji.
Perbedaan haji khusus dan haji reguler terutama terletak pada sistem penyelenggaraan dan pengaturan layanan, bukan pada prinsip dasar ibadahnya. Keduanya tetap mengikuti tuntunan syariat Islam.
Dengan mengikuti manasik secara sungguh-sungguh, mempelajari doa beserta maknanya, dan menggunakan sumber yang tepercaya, jemaah dapat mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah dengan lebih tertib, mandiri, dan khusyuk.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada seluruh calon jemaah, menerima amal ibadahnya, dan menganugerahkan haji yang mabrur.
Sumber Referensi
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Tuntunan Manasik Haji dan Umrah. Baca panduan resmi Kemenag.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Manasik dan Ikhtiar Menjadikan Jemaah Haji Lebih Mandiri. Baca artikel resmi Kemenag.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Standar Kegiatan Usaha Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah dan Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus, Peraturan Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2021. Buka JDIH Kemenag.
- Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 158 dan 201, Surah Al-A’raf ayat 23, serta Surah Al-Furqan ayat 74. Rujuk mushaf dan terjemahan resmi Kementerian Agama RI.