Panduan Sa’i Umrah: Sejarah Siti Hajar, Tata Cara, dan Doa Lengkap

Ibadah Umrah bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Setiap rangkaiannya menyimpan pelajaran tentang keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati. Salah satunya adalah Sa’i, yaitu berjalan di antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Di balik ibadah ini, terdapat kisah inspiratif Siti Hajar yang berjuang mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Perjuangannya menjadi teladan tentang pentingnya ikhtiar dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.
Memahami sejarah dan tata cara Sa’i dapat membantu jamaah menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk. Oleh karena itu, Sahid Tour merangkum sejarah, makna, tata cara, serta bacaan doa Sa’i sebagai panduan bagi calon jamaah Umrah.
Sejarah Sa’i: Keteguhan Siti Hajar dalam Mencari Air
Kisah Sa’i bermula ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail AS, di lembah Makkah atas perintah Allah SWT. Saat itu, wilayah tersebut masih tandus dan belum memiliki sumber air yang mudah dijangkau.
Ketika persediaan air habis, Nabi Ismail AS yang masih bayi mulai kehausan. Siti Hajar pun berusaha mencari pertolongan. Beliau berjalan menuju Bukit Shafa untuk melihat keadaan di sekitarnya. Setelah tidak menemukan sumber air, beliau bergerak menuju Bukit Marwah.
Siti Hajar terus berusaha mencari air di antara kedua bukit tersebut. Beliau mengulangi perjalanan itu hingga tujuh kali demi menyelamatkan putranya.
Atas izin Allah SWT, mata air Zamzam kemudian muncul di dekat Nabi Ismail AS. Air tersebut menjadi pertolongan bagi Siti Hajar dan putranya. Kisah ini mengajarkan bahwa ikhtiar perlu disertai keyakinan dan tawakal kepada Allah SWT.
Hingga kini, perjuangan Siti Hajar dikenang melalui ibadah Sa’i dalam rangkaian Haji dan Umrah.
Makna Ibadah Sa’i bagi Jamaah Umrah
Sa’i memiliki makna yang mendalam bagi setiap Muslim. Ibadah ini mengingatkan jamaah bahwa usaha, doa, dan tawakal merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan.
Ada tiga pelajaran utama yang dapat diambil dari kisah Siti Hajar.
1. Pentingnya ikhtiar
Siti Hajar tidak hanya menunggu pertolongan Allah SWT. Beliau terus berusaha mencari air demi keselamatan putranya. Kisah ini mengajarkan bahwa setiap harapan perlu disertai usaha yang sungguh-sungguh.
2. Keyakinan kepada pertolongan Allah
Dalam keadaan sulit, Siti Hajar tetap berusaha dan menunjukkan keyakinan kepada Allah SWT. Sa’i mengingatkan jamaah untuk tetap berprasangka baik kepada Allah saat menghadapi ujian kehidupan.
3. Keteguhan dan kasih sayang seorang ibu
Perjuangan Siti Hajar menunjukkan besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Keteguhan beliau menjadi teladan bagi umat Islam sepanjang masa.
Hukum dan Syarat Sah Sa’i
Sa’i merupakan salah satu rukun Umrah dan Haji. Karena itu, pelaksanaannya perlu mengikuti ketentuan ibadah yang benar.
Berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan jamaah:
- Dimulai setelah Tawaf yang sah. Sa’i dilaksanakan setelah jamaah menyelesaikan Tawaf sesuai ketentuan.
- Dimulai dari Bukit Shafa. Perjalanan pertama harus dimulai dari Shafa menuju Marwah.
- Dilakukan sebanyak tujuh perjalanan. Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali. Perjalanan kembali dari Marwah ke Shafa dihitung sebagai perjalanan kedua.
- Diakhiri di Bukit Marwah. Perjalanan ketujuh berakhir di Marwah.
- Mengikuti jalur Sa’i. Jamaah melaksanakan Sa’i di area yang telah disediakan di Masjidil Haram.
Jamaah juga perlu memperhatikan kondisi fisik selama beribadah. Bagi lansia dan jamaah dengan keterbatasan mobilitas, tersedia fasilitas pendukung di Masjidil Haram. Jamaah dapat meminta bantuan petugas untuk mengetahui pilihan yang sesuai.
Panduan Tata Cara dan Doa Sa’i
Sebelum memulai Sa’i, pastikan jamaah telah menyelesaikan Tawaf dan memahami arah perjalanan. Selanjutnya, ikuti panduan berikut agar ibadah berlangsung tertib.
1. Membaca Doa Saat Memulai Sa’i
Ketika mendekati Bukit Shafa, jamaah dianjurkan membaca ayat berikut dari Surah Al-Baqarah ayat 158.
Bacaan Arab:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Bacaan Latin:
Innash-shafā wal-marwata min sya‘ā’irillāh. Faman hajjal-baita awi‘tamara falā junāha ‘alaihi ay yattawwafa bihimā. Wa man tathawwa‘a khairan fa innallāha syākirun ‘alīm.
Artinya:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar Allah. Maka siapa yang beribadah Haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. Siapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)
Setelah membaca ayat tersebut, jamaah dapat melanjutkan dengan bacaan berikut.
Bacaan Arab:
أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
Bacaan Latin:
Abda’u bimā bada’allāhu bih.
Artinya:
“Aku memulai dengan apa yang telah Allah mulai.”
Bacaan ini sesuai dengan tuntunan yang diriwayatkan dalam hadis tentang pelaksanaan Sa’i oleh Rasulullah SAW.
2. Berzikir dan Berdoa di Bukit Shafa
Setelah sampai di Shafa, jamaah menghadap kiblat dan berzikir kepada Allah SWT. Selanjutnya, jamaah dapat membaca kalimat tauhid berikut.
Bacaan Arab:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Bacaan Latin:
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Lā ilāha illallāhu wahdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Jamaah dapat melanjutkan dengan zikir dan doa pribadi. Rasulullah SAW juga mencontohkan pengulangan zikir dan doa di Shafa serta Marwah. Bacaan zikir tersebut dapat diulang sesuai tuntunan manasik.
3. Berjalan dari Shafa Menuju Marwah
Setelah berdoa di Shafa, jamaah mulai berjalan menuju Marwah. Sepanjang perjalanan, jamaah dapat memperbanyak zikir, membaca selawat, atau berdoa dengan bahasa yang dipahami.
Tidak ada satu doa khusus yang wajib dibaca pada setiap perjalanan Sa’i. Karena itu, jamaah tidak perlu khawatir jika belum menghafal seluruh bacaan doa.
Bagi jamaah laki-laki, disunahkan berjalan lebih cepat atau berlari kecil di antara dua tanda lampu hijau, sesuai kondisi dan situasi. Sementara itu, jamaah perempuan berjalan seperti biasa.
Jamaah tetap perlu menjaga keselamatan dan tidak memaksakan diri ketika kondisi fisik tidak memungkinkan.
4. Melanjutkan Sa’i hingga Tujuh Perjalanan
Setibanya di Marwah, jamaah dapat berzikir dan berdoa sebagaimana ketika berada di Shafa. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Shafa.
Hitungan Sa’i dilakukan dengan urutan berikut:
- Perjalanan pertama: Shafa menuju Marwah.
- Perjalanan kedua: Marwah menuju Shafa.
- Perjalanan ketiga: Shafa menuju Marwah.
- Perjalanan keempat: Marwah menuju Shafa.
- Perjalanan kelima: Shafa menuju Marwah.
- Perjalanan keenam: Marwah menuju Shafa.
- Perjalanan ketujuh: Shafa menuju Marwah.
Dengan demikian, Sa’i berakhir di Bukit Marwah. Jamaah dianjurkan tetap menjaga ketenangan, mengikuti arahan petugas, dan memperhatikan hitungan perjalanan.
5. Menyelesaikan Sa’i dan Melaksanakan Tahallul
Setelah menyelesaikan tujuh perjalanan, jamaah telah menuntaskan rangkaian Sa’i. Selanjutnya, jamaah Umrah melaksanakan tahallul dengan memotong rambut sesuai ketentuan fikih.
Dalam Mazhab Syafi’i, tahallul dilakukan dengan memotong atau mencukur sekurang-kurangnya tiga helai rambut. Jamaah dapat mengikuti arahan pembimbing ibadah agar pelaksanaannya sesuai ketentuan.
Setelah tahallul dilakukan dengan benar, rangkaian ibadah Umrah selesai dan jamaah diperbolehkan kembali melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang selama ihram.
Tips agar Sa’i Lebih Nyaman dan Khusyuk
Sa’i membutuhkan tenaga karena jamaah menempuh perjalanan berulang di area Masjidil Haram. Oleh karena itu, persiapan fisik dan pemahaman tata cara sangat membantu kelancaran ibadah.
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:
- Jaga kondisi tubuh. Istirahat yang cukup sebelum melaksanakan Sa’i.
- Gunakan alas kaki yang sesuai. Pilih alas kaki yang nyaman ketika berjalan di luar area yang mengharuskan jamaah melepasnya.
- Pahami hitungan perjalanan. Ingat bahwa Shafa ke Marwah dihitung satu perjalanan.
- Perbanyak zikir dan doa. Gunakan waktu selama Sa’i untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Ikuti arahan pembimbing. Tanyakan kepada pembimbing jika mengalami kesulitan dalam memahami tata cara ibadah.
- Utamakan keselamatan. Jangan memaksakan diri berlari atau berjalan cepat jika kondisi fisik tidak memungkinkan.
Dengan persiapan yang baik, jamaah dapat menjalankan Sa’i dengan lebih tenang dan fokus pada makna ibadah.
Meneladani Siti Hajar dalam Kehidupan Sehari-hari
Kisah Siti Hajar memberikan pelajaran yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menunjukkan bahwa keyakinan kepada Allah perlu berjalan seiring dengan usaha yang sungguh-sungguh.
Melalui Sa’i, jamaah diajak untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Setiap langkah mengingatkan kita bahwa usaha yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai di sisi Allah SWT.
Sa’i juga mengajarkan pentingnya kesabaran, kasih sayang, dan keteguhan dalam menghadapi ujian. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya dirasakan selama berada di Tanah Suci, tetapi juga diterapkan setelah jamaah kembali ke tanah air.
Persiapkan Ibadah Umrah Bersama Sahid Tour
Memahami tata cara ibadah merupakan bagian penting dalam mempersiapkan perjalanan Umrah. Dengan bekal pengetahuan yang cukup, jamaah dapat menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan lebih percaya diri dan khusyuk.
Sahid Tour menyediakan program perjalanan Umrah dengan pendampingan dan bimbingan manasik untuk membantu jamaah memahami tata cara ibadah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Untuk mengetahui informasi program Umrah dan konsultasi perjalanan, silakan mengunjungi website resmi Sahid Tour atau menghubungi WhatsApp Sahid Tour di 0811-1902-270.
Semoga setiap langkah jamaah di Tanah Suci menjadi ibadah yang penuh makna dan mendapatkan rida Allah SWT.
Sumber Referensi
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Tuntunan Manasik Haji dan Umrah. Baca panduan resmi.
- Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Tata Cara Sa’i yang Benar sesuai Tuntunan, Doa dan Hukumnya. Baca artikel BPKH.
- Sunan an-Nasa’i, hadis 2969. Riwayat mengenai dimulainya Sa’i dari Shafa. Baca hadis.
- Sahih Muslim, Kitab Haji, hadis 1218. Riwayat Jabir mengenai tata cara Haji Rasulullah SAW, termasuk zikir dan doa di Shafa serta Marwah. Ringkasan riwayat dapat dibaca melalui Hisn al-Muslim, doa di Shafa dan Marwah.